Skip to main content

Petani di Kecamatan Seginim dan Air Nipis, Bengkulu Selatan Keluhkan Kenaikan Harga Pupuk Subsidi

Pupuk Subsidi. Foto: Aan/Siberbengkulu.co

Bengkulu Selatan, Siberbengkulu.co -- Menjelang musim tanam padi, petani di Kecamatan Seginim dan Air Nipis, Kabupaten Bengkulu Selatan, menghadapi tantangan besar akibat melonjaknya harga pupuk subsidi. Dua kecamatan yang selama ini dikenal sebagai lumbung beras utama di daerah tersebut dan pemasok beras untuk Provinsi Bengkulu kini berjuang keras mempertahankan hasil panen mereka.

Salah seorang petani padi dari Kecamatan Air Nipis Arman (43) mengungkapkan keluhannya pada Rabu (11/12/24). Ia menyebutkan bahwa harga Pupuk Urea Subsidi yang disalurkan melalui kelompok tani kini mencapai Rp150.000 per sak. Bahkan untuk petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani, harga pupuk bisa melonjak hingga Rp170.000 per sak.

"Padahal wilayah kami dikenal sebagai lumbung beras, tapi kondisi ini benar-benar menyulitkan kami para petani. Harga pupuk subsidi di tingkat pengecer jauh lebih tinggi dari yang seharusnya," ujar Arman dengan nada kecewa.

Arman menjelaskan bahwa kenaikan harga pupuk sangat membebani para petani, sebab pupuk merupakan komponen penting dalam pertanian padi. Kenaikan harga ini mempengaruhi biaya produksi dan membuat banyak petani kesulitan memenuhi kebutuhan untuk menanam padi mereka.

Pemerintah sendiri telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk pupuk subsidi berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian. Dalam aturan tersebut, harga pupuk subsidi jenis urea ditetapkan sebesar Rp112.500 per sak dengan berat 50 kilogram. Namun, kenyataannya harga pupuk di lapangan jauh melampaui HET yang ditetapkan.

"Seharusnya pupuk subsidi dijual sesuai HET, yaitu Rp112.500 per sak. Tapi di sini harganya sudah jauh lebih mahal, mencapai Rp150.000 hingga Rp170.000 per sak," tambahnya.

Kenaikan harga pupuk ini bukan hanya merugikan petani dari segi keuangan, tetapi juga berpotensi mengurangi hasil panen mereka. Banyak petani yang terpaksa mengurangi penggunaan pupuk untuk menghemat biaya, yang tentunya berisiko menurunkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian.

"Kalau begini terus, hasil panen kami pasti akan berkurang. Pupuk itu sangat penting untuk memastikan tanaman padi tumbuh subur dan menghasilkan gabah yang banyak," lanjutnya.

Para petani di daerah tersebut berharap agar pemerintah, baik daerah maupun pusat, segera turun tangan untuk membantu mengatasi permasalahan harga pupuk yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

"Kami meminta pemerintah untuk lebih peduli pada nasib petani kecil seperti kami. Harga pupuk yang mahal membuat kami semakin tertekan. Kami berharap ada pengawasan lebih ketat terhadap distribusi pupuk subsidi agar harganya sesuai dengan yang telah ditetapkan," tegas Arman.

Selain itu, para petani juga mengusulkan agar distribusi pupuk subsidi diawasi lebih baik sehingga tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga secara sepihak, yang semakin membebani petani.

 

Reporter: Aan Ade

Editor: M Ichfan Widodo 

Baca juga ...